25/10/16

Dieng Plateau Theater, Batu Ratapan Angin dan Jembatan Merah Putih





Ayo kita nonton di Dieng Plateau Theater!

Tak lengkap rasanya bila ke Dieng tidak mengunjungi Dieng Plateau Theater. Kenapa? Karena disinilah kita bisa mendapatkan aneka informasi mengenai sejarah Dieng, penduduk Dieng dengan budaya dan mata pencahariannya, kondisi geografis Dieng serta fenomela alamnya. Jadi ada baiknya, bila sahabat berkunjung ke Kawasan Dataran Tinggi Dieng, mampirlah ke tempat wisata ini terlebih dahulu sebelum memulai petualangan ke tempat2 wisata lainnya di Dieng karena dengan berbekal pengetahuan, petualangan akan lebih seru!!
Dieng Plateau Theater
Dieng Plateau Thater
Sayangnya bukan itulah yang terjadi dengan saya. Saya berkesempatan mampir ke Dieng Plateau Theater setelah terlebih dahulu melancong ke Telaga Warna, ke kompleks Candi Arjuna dan ke Kawah Sikidang. Maklum, baru pertama kali datang ke Dieng dan tanpa mencari tau terlebih dahulu.... ya jadinya begitu dech..... Tapi ga pa2 dech, yang penting saya sempat mampir ke tempat ini..... (menghibur diri....)

Dieng Plateau Theater adalam semacam bangunan bioskop, bentuk bangunannya unik, dibangun di lereng bukit, betuk atapnya berundak-undak dengan ujung yang runcing, dihiasi dengan taman yang indah disekelilingnya..... Walaupun namanya bioskop, jangan berharap bisa nonton film bak di XXI ya sahabat..... di dalam teater ini yang diputar adalah film pendek dokumenter seputar Dieng, berdurasi kurang lebih 20 menit. Kapasitas teater ini cukup banyak juga, bisa menampung sekitar 100 orang penonton. Teater ini diresmikan sendiri lho oleh presiden kita Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada tahun 2006....
Dieng Plateau Theater
Atap yang berundak2 dan berujung runcing
Selain untuk menonton, tempat ini juga bisa untuk beristirahat dan bersantai karena sudah disediakan tempat2 duduk dan taman2 indah di sekitarnya, dengan udara yang sejuk dan segar di ketinggian 2000 mdpl, pemandangan alam dari kawasan Dieng Plateau Theater ini sungguh indah, dari kejauhan sahabat akan bisa melihat kawasan Kawah Sikidang, perbukitan dengan batu-batuan khas yang indah, perkebunan dan ladang milik penduduk setempat.... sungguh pemandangan yang menyejukkan mata dan hati.....


Dieng Plateau Theater
Taman di sekitar Ding Plateau Theater
Dieng Plateau Theater
Bisa melihat Kawah Sikidang di kejauhan
Untuk bisa sampai di kawasan Dieng Plateau Theater, setelah memasuki kawasan Dataran tinggi Dieng, di petigaan telaga Warna sahabat perlu berbelok ke kiri, ikuti saja terus jalan ini sampai sejauh kira-kira 1.5 km melewati area parkiran telaga Warna, kemudian sahabat akan menemukan pertigaan dengan papan petunjuk menuju Dieng Plateau Theater, dari sini berbelok ke kiri dengan jalanan yang cukup mendaki.... dan sampailah sahabat di kawasan teater ini. Buat sahabat yang datang berobongan, jangan khawatir, parkirannya cukup luas koq, bisa untuk rombongan yang datang dengan memakai bis.

Pada saat saya sampai di kawasan Dieng Plateau Theater ini, ternyata film sedang diputar, jadi saya mesti menunggu untuk antrian pemutaran film selanjutnya. Sembari menunggu, suami saya yang mendampingi saya berpetualang pada waktu itu, memutuskan untuk menguji adrenalin di wahana flying fox yang terdapat di sisi sebelah bawah teater...... Saya sih ga mau ikutan naik, udah pernah beberapa kali naik flying fox di beberapa tempat lain, jadi saya udah ga kepingin...... tapi suamiku tercinta seumur-umur belum pernah naik flying fox.... hehehe..... jadi kepingin banget..... Alhasil, saya jadi nongkrong dech disitu menunggu suami yang sedang berpetualang ke bukit sebelah.... harga paket flying fox ini adalah Rp. 35 ribu, dengan lintasan yang cukup panjang melewati ladang milik penduduk sampai ke bukit sebelah, dari situ ojek sudah siap menunggu dan mengantarkan kembali para pengunjung ke Dieng Plateau Theater.



Dieng Plateau Theater
Naik flying fox
Tak lama kemudian, pemutaran film akan segera dimulai. Suamiku yang barusan datang naik ojek mesti buru2 naik ke teater. Tiket yang kami bayar Rp. 10 ribu pada waktu memasuki kawasan Dataran Tinggi Dieng, sudah termasuk paket untuk menonton di Dieng Plateau Theater, jadi ga perlu bayar lagi ya sahabat...... Ternyata yang nonton banyak juga.... dan ternyata banyak juga pengetahuan kita bertambah dari menonton di Deing Plateau Theater ini. Saya baru tau bahwa kawah2 yang banyak terdapat di sekitar Dieng ini tidak semuanya aman untuk dikunjungi, sebagian adalah kawah beracun, bahkan pernah menyebabkan kematian massal pada tahun 1970an karena terjadi gempa dan kawah mengeluarkan racun. Saya juga baru tau bahwa ada fenomena alam yang dinamakan bun upas, yaitu pada saat cuaca malam dan dini hari begitu dinginnya hingga mencapai 0 derjat celcius, menyebabkan embun yang menempel di tanaman menjadi es, dan sekaligus menyebabkan semua tanaman menjadi mati...... fenomena alam ini sering terjadi di saat musim kemarau. Saya juga menjadi tau sejarah dan budaya penduduk sehubungan dengan legenda anak berambut gimbal...... Pokoke seru dech sahabat..... mesti nonton!

Selesai nonton, saya mampir dulu di kios yang terdapat di sisi parkiran Dieng Plateau Theater, terdapat beberapa kios/warung disini, sahabat bisa bersitirahat sembari makan dan minum...... berhubung saya akan melanjutkan perjalanan ke Batu Pandang Ratapan Angin..... isi bensin dulu ah,,,,,, daripada nanti kehausan pada saat mendaki...


Mendaki Batu Pandang Ratapan Angin dan Jembatan Merah Putih

Selesai menikmati segarnya minuman di warung samping area parkiran dan tentunya ditambah cemilan kedoyanannya ibu2..... perjalanannya pun dilanjutkan. Papan petunjuk menuju Batu Pandang dan Jembatan Merah Putih berdiri dengan gagahnya di salah satu pojokan tepian bukit disamping Dieng Plateau Theater. Dari sinilah pendakian dimulai, Kita harus mendaki jalan setapak yang kadang2 cukup sempit dan cukup terjal, tetapi di beberapa bagian lain cukup landai, melewati kawasan bukit bebatuan dan ladang2 tanaman..... perjalanan yang cukup menyenangkan. Di perjalanan ini kita juga disuguhkan pemandangan alam kawasan Dieng yang fantastis. 


Batu Pandang Ratapan Angin
Petunjuk menuju Batu Pandang Ratapan Angin dan Jembatan Merah Putih
Sekitar 50 m kemudian, kita akan sampai di pos penjagaan. Dengan membayar tiket masuk Rp. 10 ribu, kita dipersilakan untuk melanjutkan perjalanan ke kawasan batu Pandang Ratapan Angin. Dari pos penjagaan perjalanan kemudian mendaki bukit kembali melalui batu2 khas perbukitan Dieng, dan setelah mendaki beberapa waktu, gardu pandang di dekat Batu Ratapan Angin mulai kelihatan. Cukup susah juga mendaki ke area gardu pandang ini karena harus mendaki melalui batu2 yang cukup terjal, ditambah pula gardu pandang tersebut tidaklah begitu luas, pada saat itu sudah banyak pelancong yang rebutan ingin foto narsis di Batu Ratapan Angin....... jadi saya harus menunggu beberapa saat sampai beberapa orang meninggalkan kawasan itu.....


Batu Pandang Ratapan Angin
Gardu Pandang Batu Ratapan Angin sudah mulai kelihatan
Akhirnya kesempatan itu datang juga...... Dengan sedikit susah payah mendaki bebatuan, sampailah di gardu pandang..... Wow..... sungguh pemandangan yang fantastis sahabat...... Telaga Warna dan Telaga Pengilon yang indah berdampingan tetapi berbeda warna, dikelilingi oleh perbukitan indah, desa-desa di lereng bukit, perkebunan dan ladang2 indah milik penduduk, bukit2 berbatu khas Dieng, dan tentu saja ada dua buah batu yang berada di kawasan ini yang dinamakan Batu Pandang Ratapan Angin......


Batu Pandang Ratapan Angin
Keindahan Telaga Warna dan Pengilon dari Batu Pandang

Legenda Batu Pandang Ratapan Angin

Kenapa dinamakan Batu Pandang Ratapan Angin? Bila sahabat datang ke tempat wisata di Dieng ini, sahabat bisa mendengar sendiri, hembusan iangin yang kencang di puncak bukit menerpa dedaunan dan pepohonan, menimbulkan suara bagaikan ratapan...... memang hembusan angin disini cukup kencang pada saat saya berkunjung, baju dan kerudung seakan mau diterbangkan angin, saya harus berpegang erat2 ke tiang di gardu pandang,,,,,, takutnya saya juga ikut2an terbang....... hehehehe....

Ada pula cerita turun temurun mengenai legenda Batu Pandang Ratapan Angin ini..... Alkisah, pada zaman dahulu kala hiduplah seorang pangeran dengan istrinya seorang putri yang cantik yang hidup rukun bahagia.... Kebahagiaan hidup mereka sudah termahsyur kemana2..... tetapi apa daya, cobaan datang menghampiri keluarga bahagia ini, seorang laki2 menjadi pengganggu sang putri dan orang ketiga di kehidupan mereka..... Pada awalnya sang pangeran tidak percaya, tetapi akhirnya beliau berusaha menyelidiki sendiri kabar burung yang beredar mengenai perselingkuhan istrinya itu.... Pada suatu hari, alangkah terkejutnya sang pangeran menyaksikan di depan matanya sendiri sang istri sedang memadu kasih dengan orang lain di puncak sebuah bukit..... Sang pangeran pun marah dan terjadilah pertengkaran diantara ketiga orang itu..... Sang putri yang sudah tidak berpikiran panjang berusaha membunuh sang pangeran, tetapi sang pangeran adalah seorang yang sakti, dengan kesaktiannya akhirnya sang pangeran mengutuk istrinya dan laki2 pengganggu tersebut menjadi dua batu.... batu itulah yang kemudian menjadi Batu Ratapan Angin... Bunyi angin yang bagaikan meratap melambangkan ratapan penyesalan dari kedua orang tersebut.... 


Batu Pandang Ratapan Angin
Inilah dia dua buah batu dari Legenda Batu Pandang
Walaupun sudah sampai di kawasan Batu Pandang, tetap saya mesti sabar juga menunggu giliran untuk bisa naik ke atas batunya...... sembari menunggu, saya layang kan pandangan dan kamera ke sekeliling area batu pandang. memang sungguh-sungguh menakjubkan pemandangan disini... tak salah mengapa yang datang sampai antrian untuk menancapkan jejak kaki ke Batu Pandang Ratapan Angin ini.......


Batu Pandang Ratapan Angin
Telaga Warna 
Batu Pandang Ratapan Angin
Pedesaan di kaki bukit
Batu Pandang Ratapan Angin
Telaga Pengilon
Setelah puas menikmati pemandangan alam dari kawasan batu Pandang Ratapan Angin, saya juga ingin melihat yang namanya Jembatan Merah Putih. Katanya sih, wahana buatan ini juga belum lama didirikan, tapi walaupun masih baru, sudah mulai terkenal di kalangan para pencinta traveling.... Perjalanan dilanjutkan dengan mendaki bukit kembali...... tidak terlalu jauh juga dari kawasan Batu Pandang, mungkin hanya sekitar 50m, akan sampailah kita di kawasan Jembatan Merah Putih. Tempat ini cocok untuk sahabat yang juga ingin menguji nyali melewati jembatan yang mnghubungkan dua buah batu besar di puncak bukit, sembari menikmati pemandangan alam yang fantastis dan udara yang sejuk ....

Benar sahabat, pemandangan alam dari Jembatan merah Putih ini juga tak kalah indahnya.. Tentu saja ada telaga kembar, telaga Warna dan Pengilon, lereng bukit dengan ladang2 milik penduduk dan bukit2 bebatuan... oh.... indah pemandangan.....



Jembatan Merah Putih
Bendera Merah Putih di ujung Jembatan
Jembatan Merah Putih
Jembatan Merah Putih
Jembatan Merah Putih
Keindahan alam dari kawasan Jembatan Merah Putih

Bagaimana sahabat? Tertarik untuk datang kesini? Ayo buruan........


Tips untuk sahabat :

  • Datanglah di pagi hari bila sahabat ingin menyambangi Batu Pandang Ratapan Angin. Biasanya cuaca pada pagi hari masih bersih, jadi sahabat bisa menikmati keindahan alam di sekitar Batu Pandang secara maksimal. Kadang-kadang, mulai siang dan sore, kabut sudah mulai menggantung dan meyelimuti kawasan ini, jadi kurang oke dech untuk menikmati keindahan alamnya.... 




Cheers



Bila sahabat punya saran, update, komentar mengenai tempat wisata ini, silakan diisi di BUKU TAMU yaa....


Baca juga :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar